Kisah Pasca #NoComplaintWeek

Teman2,

Gw menyediakan postingan ini untuk siapa saja yang masih mau menambahkan kesan2 sesudah #NoComplaintWeek selesai. Siapa tahu ada yang masih merasakan efeknya bahkan sesudah menyelesaikan program ini.

Misalnya yang terjadi di gw hari ini…

Hari ini jadwalnya full-day training. Topik trainingnya kebetulan ‘berat’, bukan yang fun. Ketika pagi menjelang siang gw mulai berasa bosan karena merasa materinya berjalan lambat. Seperti kebiasaan lama, gw udah tergoda buat ngedumel ke temen sebelah “BO, BAKAL PANJANG NEH KAYAKNYA HARI INI…” Tetapi kemudian langsung ke-rem sendiri, pikir gw, “Kalo gw ngomel ke temen gw juga ga mengubah apa-apa, dan juga ngejatohin spirit temen sekerja sendiri. Buat apa?” Jadilah gw duduk manis, walaupun manifestasinya jadi ngoprek2 benda2 di atas meja 😀

Jadi hari pertama setelah #NoComplaintWeek berakhir, masih ada ‘sisa’ kebiasannya sih….

Sesuai janji, gw me-run report TweetReach sekali lagi untuk melihat perjalanan hestek #NoComplaintWeek. Silahkan dilihat di sini. Lumayan, hestek tersebut telah berpotensi mencapai 1.3 juta akun, dengan 3.6 juta impresi! (untuk penjelasannya coba cek penjelasan di postingan hari Jumat/Day 5). Di bagian “Contributors”, kelihatan juga efek jumlah followers. @fitrop dengan SATU twit menghasilkan 1.1 juta impresi, sementara 143 twit gw ‘baru’ menghasilkan 2 juta impresi. Jaaauh…. :p

Buat temen2 yang mau share kisah2 pasca #NoComplaintWeek, silahkan loh di bawah ini! 🙂

Advertisements

#NoComplaintWeek Season 2 – Day 7 & Catatan Penghujung.

Wah, akhirnya….hari terakhir!

Gak terasa, dalam beberapa jam lagi, selesailah program #NoComplaintWeek Season 2 ini, yang di-woro2 persis Minggu malam yg lalu.

Gw sendiri hari ini ‘kebobolan’ kok *malu*. Sore2 nyetir, mobil di depan tanpa nyalain lampu sen main langsung pindah jalur memotong gw. Spontan tercetus “Brengsek!”, abis itu langsung nyadar dan malu sendiri.

See? Udah veteran Season 1 toh masih tetep aja bisa kebobolan. Emang gak gampang kan? 🙂

Catatan Penghujung.

Pada saat di awal, gw udah bilang bahwa #NoComplaintWeek adalah eksperimen kecil2an. Mencoba tidak mengeluh selama 7 hari. Tidak ada aturan yang berat, dan tidak ada istilah “batal”. Keceplosan mengeluh? Ya tinggal lanjut lagi, karena yang hendak ditekankan adalah effort/upayanya. Hanya 7 hari, supaya tidak terlalu berat, tapi cukup lama untuk tidak ‘menggampangkan’nya (kalo sehari dirasakan terlalu ringan). Sebagai ‘eksperimen’ pribadi, tidak ada paksaan, imbalan, ataupun hukuman untuk yang berpartisipasi – gw hanya mengajak teman2 rame2 mencoba ini, dibawa fun aja.

Dari banyak kisah2 sharing temen2 di blog ini, ada beberapa poin yang menarik gw:

  1. Di catatan pembuka, gw juga mengutip sebuah studi yang menunjukkan tidak hanya perasaan mempengaruhi ekspresi, ekspresi juga bisa mempengaruhi perasaan (contoh, senyum yang dipaksakan pun bisa memberi efek kepadamood kita). Jadi gw penasaran juga: kalo kita mengurangi/menyetop kebiasaan mengeluh kita, apakah ada efeknya pada mood kita? Gimana teman2? 😀
  2. Efek mengumumkan komitmen kepada orang lain. Beberapa partisipan mengumumkan niatan #NoComplaintWeek kepada teman2 mereka. Ada yang dicemooh, tetapi banyak yang mendapat dukungan dari teman2nya. Kalo yang teman2nya baik, malah dibantuin diingatkan kalo mulai mengeluh. 🙂 Dari kegiatan kecil ini, bisa ketauan juga temen yang suport hal yang positif, mana yang nggak.
  3. Efek mengeluh pada orang sekitar. Mengeluh itu ternyata menularkan aura negatif ke orang sekitar. Saat kita berhenti/mengurangi mengeluh, kadang2 kita baru nyadar mengeluh itu gak enak didengar saat mendengar keluhan orang lain.
  4. Strategi yang berbeda2. Ada yang kalo mulai bete nyanyi2. Ada yg senyum2. Ada yang ketawa2 (moga2 gak dikira gila…). Tetapi strategi paling sering adalah membandingkan diri dengan yang tidak seberuntung kita, atau membayangkan bahwa sebuah situasi bisa lebih buruk lagi (strategi “Masih untung nggak….”) Strategi boleh berbeda-beda, tapi yang menarik adalah sebagian besar menemukan bahwa hal-hal yang biasanya menjadi penyebab mengeluh sehari2 sebenarnya tidaklah seburuk itu, dan sebenarnya tidak worth complaining juga.
  5. Membedakan mengeluh yang konstruktif (dan perlu), dan mengeluh yang tidak berguna. Mengeluh konstruktif itu bisa disampaikan kepada pihak lain untuk memperbaiki keadaan, atau sebagai pemicu untuk segera mencari solusi. Tetapi sebagian besar mengeluh kita tidak mengubah apapun, hanya membuang energi dan waktu.
  6. Efek dari tidak mengeluh? Macem2. Dari hari yang terasa lebih enteng (sering disebut nih), sampai yang menarik, memberi kesempatan untuk ide2 baru bermunculan. Untuk yang terakhir, mungkin kalau kita banyak mengeluh, kita memfokuskan diri pada kesulitannya, dan tidak cepat move on untuk memikirkan solusinya.

Gw jujur gak tau seberapa banyak total partisipan yang bertahan dari hari pertama sampai hari ini. Drop-out pasti terjadi, dan manusiawi sekali, tapi sayangnya karena tidak ada pendataan resmi, gw gak bisa tahu berapa persen yang bertahan sampai akhir.

Terus, apa sih yang pengen gw capai? (selain minta ditemenin gak ngeluh seminggu…) Gw mau realistis aja sih. 7 hari (kayaknya) bukan periode yang cukup lama untuk membawa perubahan permanen. Dan harapan pertama gw dari #NoComplaintWeek memang bukan perubahan permanen sih, itu biar jadi bonus. Yang pertama2 gw harapkan ditemukan oleh temen2 yang ikutan #NoComplaintWeek adalah: kesadaran bahwa kita MAMPU untuk tidak mengeluh. Bahwa mengeluh itu bukan kondisi manusia yang otomatis, kodrati, “pasti”. Banyak dari temen2 yang berpartisipasi nmenyadari bahwa mereka ternyata mampu untuk tidak mengeluh, minimal mengurangi.

Pengetahuan bahwa kita punya kemampuan itu – buat gw sudah cukup banget sebagai pencerahan utama dari kegiatan 7 hari ini. Jika teman2 sudah menyadarinya, bagaimana selanjutnya terserah teman2 deh 🙂

Beberapa jam lagi, ketika hari Minggu berganti Senin, #NoComplaintWeek berakhir sudah. Sudah 7 hari kita sama2 menjalani eksperimen kecil ini, dengan segala suka dan dukanya.

Gw mau mengucapkan terima kasih, buat semua temen2 yang udah ikutan mendampingi gw selama 7 hari ini. Terima kasih juga buat yang setia men-share kisah2nya di blog ini, maupun di blog masing2. Gw selalu membaca satu demi satu, karena gw justru banyak belajar dari situ. Semoga temen2 yang ikutan juga mendapatkan sesuatu selama seminggu ini yaa.

Sebagai penutup, gw mau bagi quote berikut ini mengenai penyebab mengeluh:

When we see the same blessings every day, we eventually stop noticing them.

When we stop noticing, we quit appreciating.

When we quit appreciating, we stop thanking.

When we stop thanking, we start complaining. (Kent Crockett).

Apa yang terjadi kalau kita berhenti mengeluh? Maka gw mencoba “membalik” kalimat2 di atas (belom minta ijin sama penulis aslinya tapi yak :p)

When we stop complaining, we start thanking

When we start thanking, we start appreciating

When we start appreciating, we start noticing

When we start noticing, we see new blessing everyday

Have a great new week tomorrow!

 Jangan lupa berbagi kesan2nya selama seminggu ini di bawah yaaa…. 🙂

#NoComplaintWeek Season 2 – Day 6

Hari ke-6, dan hari Sabtu!

Kayaknya buat kebanyakan orang, lebih mudah tidak mengeluh saat weekend, karena ‘mood’nya liburan. Gak kerja (kecuali yang lembur), gak kuliah juga (kecuali yg les tambahan, kelas tambahan, dll.). Tapi belum jaminan juga sik. Banyak kegiatan weekend yang bisa bikin ngedumel juga kok.

Pagi ini gw harus bangun pagi sodara2, jam 6 di hari Sabtu, karena harus ke bengkel. Bangunnya udah berat dan mau mengeluh sih, tapi gw cuma berusaha mikir, “ah, ini kan gak tiap Minggu. Dan bersyukur masih punya mobil” (prinsip: mobil gak harus mahal, yang penting dirawat teratur).

Gw mulai dapet beberapa komen dari hari ke-4 kalo mulai terbiasa untuk tidak mengeluh. Di awal2nya mungkin terasa berat, tapi buat beberapa orang lama-kelamaan mulai tidak aneh lagi. Ada benernya sih. Kadang2 gw ngerasa kenapa gak ada godaan, padahal kalo dipikir2, mungkin godaannya ada, tapi udah cepet “move on” aja, gak dipikirin lagi.

Sebenernya gw gak berharap 7 hari ini bisa mengubah seseorang secara permanen sih, tapi kalo bisaya sukur. Harapan gw yg pertama2 bukan perubahan sebenernya, tapi KESADARAN, kalo sebenernya kita lbih kuat dari keinginan mengeluh. Dan itu saja sudah powerful loh

Ayoo semangat! Besok udah mau hari terakhir looh, gak kerasa kaaan? 🙂

Jangan lupa yah berbagi ceritanya di ‘leave a reply’ di bawah 🙂

#NoComplaintWeek Season 2 – Day 5 & Laporan Statistik #NoComplaintWeek

Hari Kelima! Berarti kita sudah memasuki paruh kedua dari #NoComplaintWeek. Dan juga ini Hari Jumat, hari bahagia (seharusnya). Bagi banyak orang mungkin merasa bahwa #NoComplaintWeek akan menjadi lebih ringan karena menjelang weekend. Tapi belum tentu juga sih ya? 🙂

Siang ini gw gak mengeluh, tapi harus mendengarkan keluhan selama makan siang. Jadi temen gw mengeluhkan berbagai aspek pekerjaannya sambil makan. Yah, gw jadi pendengar yang baik aja deh. Tapi kali ini gw belajar jadi posisi pendengar keluhan. Gak papa sih. Bagaimanapun mengeluh ke teman mungkin adalah mekanisme “katarsis” untuk melepas beban, jadi gw mencoba mengerti aja 🙂

Catatan nyempil:

Perjalanan Sebuah Hestek: Statistik #NoComplaintWeek

Kebetulan ketemu website yang bisa mengukur perjalanan sebuah idea via Twitter, yaitu TweetReach.com. Apa kata situs ini tentang perjalanan hestek #NoComplaintWeek? Menarik untuk disimak.

(klik gambar untuk memperbesar)

Sampai Day 5 (Jumat siang), hestek #NoComplaintWeek dianggap sudah mencapai 259,332 orang via 1,487 twit yang menggunakan hestek tersebut. Harap diingat bahwa perhitungan ini menggunakan “jumlah follower” dan bukan aktivitas “membaca” twit yang riil. Jadi ini bukan jumlah “pembaca”, tetapi lebih kepada “potensi jumlah pembaca” (saya memfollow @detikcom, tapi tidak semua twit dari @detikcom terbaca oleh saya).

Bagaimanapun, ini hasil yang bagi gw pribadi cukup menggembirakan, karena hestek #NoComplaintWeek memiliki potensi terbaca oleh banyak orang. Betul, ini bukanlah jumlah partisipan, tetapi mengetahui bahwa ada begitu banyak orang yang mungkin melihat hestek ini saja sudah membuat gw senang. Siapa tahu mereka sempat tergelitik dengan hestek tersebut, dan minimal mencari tahu maknanya, barulah sukur2 ikutan. 🙂

“Tweet types” membagi 1,487 twit tersebut, menjadi regular twit, retweet, dan reply. 1,120 adalah twit regular, yang artinya ditulis “baru” (bukan sekedar RT atau membalas twit lain).

“Impressions” adalah total potensi hestek #NoComplaintWeek “terlihat” (impresi), terdiri dari jumlah orang yang (berpotensi) melihat hestek tersebut, dikalikan berapa kali orang tersebut (berpotensi) melihat hestek. Contoh, kalo ada 4 orang membaca hestek A 3 kali, maka total impresi adalah 12. Jadi cara membaca pie-chart di sebelah kanan: Sampai Jumat siang, ada 74 ribu orang lebih yang (berpotensi) melihat hestek #NoComplaintWeek sebanyak 2-3 kali, 122 ribu orang melihatnya sekali, dst. Nah total jumlah (potensi) orang dikalikan (potensi) frekwensi berapa kali mereka melihat hestek #NoComplaintWeek memiliki 1.9 JUTA KALI IMPRESI. Sekali lagi, angka riil-nya pasti lah di bawah ini, tetapi gw tetep seneng melihatnya!

Untuk full reportnya bisa dilihat di sini. Di dalam report komplit ini juga terlihat kontributor impresi berdasarkan akun Twitter. Ternyata orang kedua yang punya pengaruh impresi terbesar adalah @aMrazing! Terima kasih untuk SEMUA kontributor yang tercatat maupun yang tidak tercatat.

Inilah potret perjalanan sebuah “hestek kecil”, yang sudah singgah di layar hape/komputer banyak orang. Ini semua karena partisipasi temen2 juga. Semoga perjalanannnya masih berlanjut lebih panjang lagi. Nanti di akhir #NoComplaintWeek gw akan membuat report penutup yang final. 🙂

Seperti biasa, mohon share kisah2nya di Hari ke-5 ini di “leave a reply” yaaa 😀

#NoComplaintWeek Season 2 – Day 4

Aha, hari keempat. Pas di tengah2 minggu.

Ada beberapa pertanyaan dari temen-temen: kenapa gak dijadiin sebulan (#NoComplaintMonth)?

Ngga sih. Dari tahun lalu gw ngerasa seminggu udah pas. Alasannya sederhana: gw pengen banyak orang yang bisa berpartisipasi. Sehari terlalu pendek, sebulan kelamaan dan bisa bikin banyak orang jiper/segan duluan. Seminggu juga adalah “cycle” umum dalam hidup sehari2, sudah mencakup 5 hari kerja dan 2 hari weekends. Gitu aja sih.

Dengan seminggu, berharap banyak orang yang tertarik untuk mencoba, dan juga bisa “menyelesaikan”. Kalau sebulan, takutnya banyak yang tidak bisa “selesai”, dan nanti malah rasanya gak enak, frustrasi sendiri. Seminggu cukup pas kayaknya 🙂

Siang ini denger kabar kalo ide-ide bagus yang kita propose ke client dicancel. Sedih sih. Tapi ya gak mau mengeluh. Langsung cepet move-on pikirin ide2 baru. Tapi kemampuan gak ngeluh dalam konteks ini jujur terasah karena “jam terbang” sih. Bertahun2 kerja di advertising bikin gw biasa dengan ide yang ditolak atau gugur di tengah jalan…. 🙂

Catatan nyempil:

Mengeluh dan Kreativitas Yang Tertutup.

Kemarin di Day 3 ada testimoni dari Jenny Rompu yang menarik. “Mengeluh menutup kesempatan kita untuk berpikir lebih terbuka dan kreatif”. Gak pernah kepikir soal ini. Mengeluh (yang tidak membawa perubahan) memang menghabiskan waktu, tenaga, dan juga bisa mempengaruhi orang-orang di sekitar kita. Tetapi gw baru kepikir efeknya yang bisa mengorbankan ide2 baru dan kreatif.

Mengeluh sebenarnya bisa menjadi awal dari perbaikan. Gw yakin para pendahulu kita dulu juga mengeluhkan penjajahan. Para aktivis persamaan hak kulit hitam juga pasti mengeluhkan diskriminasi. Para aktivis muda Indonesia sekarang mengeluhkan korupsi dan ketidak-adilan di masyarakat. Mengeluh pada dasarnya tidak menerima keadaan yang sekarang, yang berbeda dengan keadaan ‘ideal’ yang diharapkan. Kalau menjadi trigger untuk mencari solusi, ya tidak apa-apa.

Tetapi sering kali gw pribadi mengeluh ya hanya untuk mengeluh. Complaining for the sake of complaining. Dan mengeluh ini tidak menjadi pemicu apa-apa yang menghasilkan ide lebih-baik atau solusi, hanya ngedumel sendiri aja. Dan seperti yang di-share oleh Jenny, mengeluh seperti ini menghabiskan sumber daya otak yang sebenarnya bisa digunakan untuk berpikir mencari ide. Jika kita skip proses mengeluh, dan langsung berpikir mencari solusi (jika memang bisa dipikirkan solusinya), maka otak kita digunakan lebih optimal, dan siapa tahu menghasilkan kreativitas 🙂

Kebetulan juga, kemarin baca artikel di detikcom “Kebiasaan Buruk Yang Membuat Otak Mengecil“. Salah satunya adalah “galak”, dan penjelasannya adalah emosi yang meledak2 bisa menyebabkan pengerasan pembuluh darah, dan jika ini mengenai pembuluh darah otak, maka ukuran otak bisa mengecil. Memang “galak” tidak sama dengan “mengeluh”, tetapi mungkin mengerem keluhan juga bisa menyebabkan kita mengerem galak? 🙂

Jadi begitulah beberapa manfaat dari tidak/mengurangi keluhan: otak bisa dipakai untuk hal-hal yang lebih berguna, dan juga (mungkin) mencegah pengecilan otak! 😀

Seperti biasa, ditunggu sharing cerita2 Hari Keempat di ‘leave a reply’ di bawah ini ya ^^

#NoComplaintWeek Season 2 – Day 3

Hari ketiga!

Gimana buat temen2 yang newbie? Tambah berat atau malah mulai merasa ‘biasa’?

Pagi2, gw udah bela2in berangkat telat ke kantor untuk bayar2an tagihan2 apartemen dulu. Pas sampe di kantor management, ternyata masih tutup. Ngomel udah di ujung lidah, tapi ya sudahlah, gigit bibir aja. Toh gak achieve apa-apa. Dan ini bukan masalah besar, masih bisa bayar lain waktu.

Selebihnya, sampe sore gak ada apa-apa sih. Palingan lagi kerja tiba2 ada aroma Indomie goreng menyerbu masuk, padahal lagi saat-saat “laper cantik”. Ya udaaah, gak apa-apaaa…..

Malem hari, kena macet juara di Kuningan. Biasanya sih udah berkeluh kesah. Padahal nyetir sendiri juga nggak. Jadi mencoba mengalihkan perhatian dengan Twitter dan blogging. Dan dengan gak mengeluh, ngejalanin macet gak perlu dengan panas hati.

Catatan Nyempil:

Tentang ‘Melihat ke Bawah’, dan Javanese Happiness

Gw perhatiin dari cerita2 yang masuk, strategi paling jamak untuk menahan keluhan adalah dengan ‘melihat ke bawah’. Kalo pegel di berdiri bus, cukup mikir “masih bersyukur bisa naik bus, daripada gak bisa pulang”. Kalo pekerjaan lagi nyebelin, “Bersyukur masih ada pekerjaan, daripada nganggur”. Kalo makanan gak enak, “Bersyukur masih ada makanan, daripada gak punya uang untuk makan”. Dst.

Gw jadi inget becandaan lama. Orang Jawa itu katanya orang paling berbahagia, karena selalu ngomong “masih untung nggak ______ (masukkan situasi yang lebih jelek di sini)”. Kalo patah tangan, masih untung gak patah kaki. Kalo patah kaki, masih untung gak patah leher, dst. Walaupun ini cuma becandaan, tetapi ada benernya juga. Dan ini mungkin strategi yang diterapkan banyak temen2 yang ikutan #NoComplaintWeek. Ketika menjalani keapesan, kita memaksa diri untuk memikirkan skenario lain yang biasanya gak pernah dipikirin, yaitu skenario “things could be worse”/keadaan bisa lebih jelek. Memikirkan skenario ini memang butuh upaya, karena by default kayaknya emang gak suka mikirin skenario yang lebih jelek dari sekarang. Bahkan seringan terobsesi dengan yang lebih baik.

Strategi memikirkan skenario “lebih apes” ini mirip, tapi tidak sama, dengan membandingkan dengan orang lain yang lebih susah. Kalo yang kedua adalah strategi “look down” (bukan merendahkan ya) ke mereka yang lebih kurang beruntung. Misalnya, “Yah, saya sakit Demam Berdarah. Orang lain ada yang harus cuci darah segala….” “Yah saya naik motor kehujanan, yang gak punya kendaraan malah susah nyari kendaraan umum”. Dalam hal ini kita menempatkan diri kita dalam perspektif lain, bahwa dalam kesialan kita, dibandingkan relatif dengan orang lain, kita masih lebih beruntung. Inilah yang sering dinasihatkan orang tua: sekali-kali jangan hanya melihat ke atas (ke mereka yang lebih beruntung), tapi lihat juga ke bawah (ke mereka yang kurang beruntung), sehingga bisa bersyukur. Dan terhindar dari cedera leher.

Maybe, the Javanese are indeed the happiest people in the world 🙂

Ayo, tetep sharing ceritanya di ‘leave a reply’. Jangan males! 😀

#NoComplaintWeek Season 2 – Day 2

Dari pagi sampe sore belom ada hal yang bener2 bisa bikin mengeluh sih. Di jalanan berangkat ke kantor ya macet, tapi udah gak mau dipikirin, toh nggak mengubah apa-apa. Di kantor juga relatif lancar2 saja. Jadi berasa kurang tantangan :p

(bukannya maksudnya nantangin nasib sih, tapi latihan menahan keluhan itu kan butuh situasi yang biasanya layak dikeluhkan. Masak gw menciptakan masalah sendiri sih? :))

Di sore hari, lagi meeting malah ada tantangan, berupa brief dari client. Sepanjang karir gw sudah melihat ratusan, mungkin ribuan dokumen brief dari client. Nah, biasanya kalau ketemu brief yang bertele-tele dan bombastis, paling cepet mengeluh. Tadi aja di ujung bibir udah mau ngomong di tengah meeting sama temen sekantor “Duh, kata-katanya lebay amat neh”. Tapi nyadar lagi gak boleh mengeluh, jadinya ditahan sambil senyum2 aja. Toh udah bagus ada brief tertulis. Could be worse, bisa ga ada brief, atau bahkan gak ada job sama sekali.

Malem hari, akhirnya gw jebol juga. Sambil makan, asik ngobrol, lupa topiknya apa, tapi gw kelepasan “bete deh gw….” dan langsung nyadar udah ngeluh. Bener kan, gak ngeluh itu gak gampang, kalau sudah jadi insting otomatis.

Tapi kayak gw bilang, gak ada istilah “batal” di #NoComplaintWeek. Jadi tinggal lanjuuut aja!

Catatan nyempil:

Soal mengeluh dan mengubah keadaan.

Suka nggak suka, inisiatif ini pasti menimbulkan pertanyaan, “Apa definisi ‘mengeluh’?” Dan kisah-kisah dari temen2 juga bikin gw memikirkan definisi ini. Beberapa situasi yang dishare kemarin:

  • Guru menegur murid yang berusaha nyontek
  • Karyawan mengajukan complaint pada supplier
  • Pengguna handphone yang bermasalah komplain ke Customer Service.

Menurut gw? Semua situasi di atas bukan kategori “mengeluh” yang perlu di-rem.

Prinsip gw begini: Perilaku kita selama #NoComplaintWeek haruslah bisa diteruskan ke hari-hari yang lainnya. Artinya, jika suatu perilaku terasa aneh jika diterapkan terus menerus, ya artinya jangan dilakukan. Kalau sampai tidak mengeluh-nya terasa tidak wajar untuk dilakukan terus-menerus, ya artinya pasti ada yang keliru.

Tugas Guru adalah menjaga kualitas pendidikan, dan menyontek jelas merugikan, baik pada kualitas pendidikan maupun si murid itu sendiri. Maka sudah tugas Guru untuk menegur murid yang menyontek. Kalau karena “no complaint” rule seorang guru tidak menegur murid, ya aneh kaaan?

Karyawan complaint pada supplier? Ya harus dong. Karena profesionalitas, dan sang karyawan berkewajiban memastikan perusahaannya mendapatkan layanan yang baik. Sekali lagi, kalo “no complaint rule” ini berarti karyawan tidak memprotes kualitas jelek kepada si supplier terus2an, artinya ada yang salah dalam penerapannya. Hal yang sama untuk situasi pelanggan telekomunikasi yang hendak complaint kepada customer service. Kalo #NoComplaintWeek mau diterapkan seumur hidup, masak artinya kita tidak pernah mengeluh pada customer service? Aneh juga kan? 🙂

Jadi ada “akal sehat”/common sense yang harus diterapkan dalam membedakan keluhan yang negatif dan keluhan yang positif. #NoComplaintWeek bertujuan menahan kebiasaan mengeluh yang negatif – tidak pukul rata.

Ada kesimpulan yang bisa gw tarik mengenai “keluhan macam apa yang ditargetkan #NoComplaintWeek”

Menurut gw, keluhan yang harus kita belajar untuk menahannya adalah keluhan/ngomel/ngedumel yang tidak mengubah apa-apa.

Menegur murid, komplain pada supplier, komplain pada customer service adalah bentuk mengeluh yang disampaikan kepada pihak lain, untuk tujuan memperbaiki keadaan secara nyata.

Tetapi mengeluh pada diri sendiri/teman soal pekerjaan, kemacetan, tugas kuliah, kesialan2 kecil, dan hal-hal lain yang tidak mengubah apapun adalah sia-sia, menghabiskan tenaga, dan menyebarkan mood negatif ke diri sendiri dan orang lain.

Kebetulan hari ini di Twitter lagi ramai soal SBY membentuk Satgas Anti Pornografi, dan situasi ini memberikan batas yang tipis antara sekedar mengeluh tak berguna, dan mengeluh yang positif. Mengapa? Karena sebagian besar dari kita yang rakyat jelata tidak mempunyai akses langsung ke pemerintah dan wakil rakyat, dan ekspresi protes adalah satu-satunya yang bisa kita lakukan.

Mungkin begini kali ya: kalau kita hanya ngomel, ngedumel sendiri “Duuh, gak penting amat nih presiden, ngurusin selangkangan doang!”, mengeluh model begini gak mengubah apa2, dan termasuk mengeluh yang bisa ditahan dalam #NoComplaintWeek. Tetapi jika keluhan kita masukkan ke social media, disampaikan secara membangun/konstruktif (misalnya disertai anjuran: apakah tidak sebaiknya proritas pada korupsi?), ini termasuk aspirasi yang (moga2) tertangkap oleh media, pemerintah/wakil rakyat, dan sukur2 ditanggapi dengan baik.

Gitu aja sih menurut gw. Cara ngeceknya “Kalo gw mengeluh ini mengubah keadaan gak?” Kalo nggak, mending jangan dikeluhkan. Pilihannya adalah dinikmati/dicari sisi positifnya, atau segera mikirin caranya mengubah agar lebih baik.

Tambah jelas? Atau tambah bingung? 🙂

Jangan lupa share pengalamannya di hari kedua ini ya di bagian “leave a comment” 🙂

#NoComplaintWeek Season 2 – Day 1

Yihhaaaa, dan hari pertama #NoComplaintWeek Season 2 pun dimulai!

Pagi2, seperti biasa cobaan dateng dari…..BB. Akhir2 ini, hanya di daerah tempat gw tinggal, BB suka restart sendiri kalo pagi (gw curiga ada glitch yang berhubungan dengan sinyal). Restartnya pasti pas lagi asik2nya liat Twitter/bbm-an. Biasanya reaksi spontan adalah: kampret! Tapi kali ini cuma menghela napas aja. Bersyukur masih punya BB….

Perjalanan ke kantor tumben gak terlalu macet. Biasanya sumber godaan paling banyak emang dari jalan sih. Tapi pagi ini lumayan lancar. Syukurlah.. 😀

Jadi sampe siang ini, gw pribadi belum banyak tantangan berat sih. Eh tapi justru yg ‘kecil2’ itu justru yang lebih bahaya sih, “kampret2” kecil yang sering keucap tanpa sadar….

Menjelang sore, baru nyadar ada jadwal interview orang malem2 jam 7. Dalam hati jujur udah mau kepikir “Aduh, gw kan capek…” Tapi ya udah, dijalanin ajah. Udah bagus masih punya pekerjaan, dan justru dalam posisi menawarkan pekerjaan. 🙂

Begitu masuk mobil, terus indera penciuman menyadari bahwa pak supir kayaknya baru aja kentut. Waduh, cobaan beraaaattt!! Yah gw cuma pasrah aja, dan mencoba mengalihkan perhatian dengan update blog ini… (Sambil separuh menahan nafas…).

Rupanya cobaan gw datengnya menjelang sore/malam 🙂

Sedikit catatan tentang “mengeluh”:

Gw seneng baca buku/artikel sains, khususnya yang berhubungan dengan perilaku dan otak manusia. Nah, umumnya kita sudah tahu bahwa “perasaan mempengaruhi ekspresi”, betul? Kalau kita happy ya kita senyum, dan kalau kita lagi bete ya muka kita kelipet. Nah, secara mengejutkan, ada studi yang menunjukkan kemungkinan bahwa pengaruh itu bisa “dibalik”, menjadi “ekspresi mempengaruhi perasaan”. Bego2nya, memaksakan diri untuk tersenyum juga bisa bikin perasaan (sedikit) senang.

Studi ini meneliti para pengguna botox. Mungkin temen2 tau, orang kalo baru disuntik botox susah menggerakkan otot wajah. Temuannya adalah, para pengguna botox yang kesulitan mengerutkan kening cenderung merasa lebih happy (dan ini BUKAN karena merasa lebih cantik – hal ini sudah diperhitungkan peneliti). Bahkan, di studi terpisah, para pengguna botox ini dimasukin mesin MRI untuk merekam aktivitas otak, dan hasilnya aktivitas di bagian otak untuk emosi lebih rendah. Hipotesanya: karena secara fisik mereka tidak bisa mengerutkan kening (frowning), maka mereka juga lebih ‘susah’ untuk merasa bete! (Artikel lebih komplit di sini)

Dengan kata lain, tindakan (senyum, mengerutkan kening) mungkin juga bisa mempengaruhi perasaan.

Jadi buat gw #NoComplaintWeek mungkin bisa dihubungkan dengan penelitian di atas.

Biasanya kita kan disuruh untuk menghilangkan pikiran negatif, disuruh jadi orang yang berpikir positif, dll. Tapi semua nasehat itu berfokus di “pikiran”, dan kita tahu pikiran itu susah diatur (yang sadar aja susah diatur, apalagi yang bawah sadar/subconscious). #NoComplaintWeek justru ‘menyerang’ pada tindakannya, yaitu mengeluh-nya. Kita coba mengerem keluhannya, entah lisan maupun tulisan, dan siapa tahu bisa mempengaruhi pikiran juga. Ini bisa jadi eksperimen psikologi yang menarik.

(dan ini lebih murah daripada botox! :D)

PS: Ayo share kisah-kisah Hari Pertama #NoComplaintWeek di sini. Atau share link ke blog kamu!

No Complaint Week – Season 2!

Oke, jadi ceritanya #NoComplaintWeek akan memasuki Season 2!

Untuk yang baru pertama kali mendengar tentang #NoComplaintWeek, atau para “alumni” Season 1 yang mau membaca lagi, bisa membaca “sejarah”nya di sini.

Setahun telah berlalu sejak pertama kali #NoComplaintWeek dijalankan. Banyak sekali sharing cerita dari teman2 yang ikutan waktu itu (silahkan buka2 lagi posting2 dan komen2 yang tahun lalu). Kemudian, sejak awal tahun ini, sudah beberapa followers menanyakan kapan #NoComplaintWeek akan dilaksanakan lagi. Gw pikir, let’s do it now then.

Sekali lagi, idenya sederhana saja. Selama seminggu kita mencoba tidak mengeluh. Mengeluh di sini bisa berupa perkataan, pikiran, dan tindakan. Mengeluh di sini termasuk hal-hal besar, sampai hal-hal sepele. Dari urusan macet, hujan, pekerjaan, tugas sekolah, sampai DPR, dan perjodohan, pokoknya mengeluh tentang APAPUN kita coba lawan!

7 hariiii saja, dimulai Senin 12 Maret 2012, sampai hari Minggu 18 Maret 2012. Udah kok, segitu saja. Sesudah itu monggo mau mengeluh lagi ya bebaaaaas 🙂

Mau ikutan? Yuks! Tahun lalu banyak kisah2 pengalaman yang seru dan inspirasional. Sharing pengalaman jadinya sangat diharapkan, blog ini bisa jadi wadah sharing bersama.

Apa aja tips2 ikutan #NoComplaintWeek ini? Ini hasil pengalaman dari tahun lalu:

  1. SANTAI AJA. Jangan terlalu terbeban, dibawa fun aja. Ini bukan ritual agama, gak ada ancaman dosa. Ini juga bukan suatu komitmen yang serem dan serius. Anggap aja eksperimen psikologi kecil2an, manage expectation juga. Inisiatif ini tidak ambisius mau mengubah kita menjadi manusia yang lebih baik dalam segala hal. Kita akan fokus saja ke satu kebiasaan negatif: mengeluh.
  2. AWALI DARI TINDAKAN, BARU PIKIRAN. Maksudnya begini, tidak usah terlalu ambisius untuk berubah menjadi manusia yang tidak mengeluh dari hati dulu. Fokus saja dulu ke “tindakan mengeluh”nya: ngomel, ngetwit, curhat ke temen, ngeblog. Jadi awalnya wajar masih ngomel dalam hati, yang penting tidak diekspresikan. Nanti juga pelan-pelan berasa kok menjalar ke pikiran juga 🙂
  3. PAKAI “COMMON SENSE”. Temen2 udah cukup dewasa untuk tahu apa itu “mengeluh”, jadi tidak perlu ribet mendefinisikan mengeluh itu yang kayak apa, dll. Tidak mengeluh juga tidak berarti pasrah loh ya. Kalo elu dijambret, ya teriak atau gampar jambretnya, jangan pasrah karena lagi ikutan #NoComplaintWeek. 😀
  4. “BATAL”? Ya gak apa-apa, lanjut lagi. Mengeluh itu sudah menjadi insting dasar, ya pasti susah diubah. Yang mau dicoba selama 7 hari ini adalah effort/usaha untuk terus melawannya.
  5. BERBAGI ITU FUN DAN MENGUATKAN! Gw sih recommend untuk sharing pengalaman2nya kepada yang lain. Selain fun untuk tukeran cerita, itu juga menjadi bentuk saling support. Temen2 bisa memakai blog ini (nanti setiap hari ada postingan setiap hari yang bisa dikomentari), atau menggunakan blog pribadi (terus share link-nya ke sini), atau share momen2 kecil di Twitter dengan hestek #NoComplaintWeek
  6. MENYATAKAN KOMITMEN KE ‘PUBLIK’. Gw pernah baca hasil studi bahwa menyatakan niatan pribadi ke ‘publik’ (bisa keluarga, teman, ataupun orang asing) menambah kemungkinan niatan itu dilaksanakan dengan sukses. Contoh: menyatakan mau berhenti merokok di status Facebook. Penjelasannya adalah dengan menyatakan niatan secara publik maka ada ‘pressure’ sehat untuk membuktikan niatan kita. Gimana kalo kita coba? Temen2 yang mau mencoba ikutan bisa menyatakan niatnya melalui “leave a comment” di post ini.

Gitu aja deh. Gampang dan sederhana kan? Mulai besok, setiap sore/malam hari gw akan bikin postingan catatan harian #NoComplaintWeek Season 2, supaya temen2 bisa share cerita masing-masing di bagian “leave a comment” untuk dibaca yang lain.

Oke, kita mulai Senin pagi besok! ALL THE BEST!

😀

Tentang Mengeluh – Refleksi #NoComplaintWeek

#NoComplaintWeek berakhir sudah di Minggu malam ini…(iya, gw tau kelarnya resminya tengah malem nanti – tapi masak udah malem gini masih mau ngeluh? Eh bisa aja ya?)

Seminggu yang lalu, di hari Minggu sore, ide ini tercetus, untuk menjalani 7 hari tanpa mengeluh. Dari iseng mengetwit ide ini sebagai “proyek pribadi”, karena sambutan dari beberapa follower, jadilah inisiatif ini dibuat “go public”, di mana orang-orang lain boleh bergabung dan ikut berbagi cerita.

Dan ternyata sambutan yang gw terima (di awal) cukup meriah. Banyak yang menyatakan mau bergabung. Di Hari Pertama banyak yang memberikan komen di blog ini, menyatakan antusiasme. Komennya saja mencapai 70 lebih!

Tentunya, seperti bisa diduga, pelan-pelan suara-suara tersebut makin berkurang seiring berjalannya hari lepas hari. Di akhir hari keenam, sudah kurang dari 15 komen, hihihi. Gw sih sudah menduga akan terjadi “seleksi alam”, layaknya dengan semua niatan manusia. Tetapi yang menghibur selalu ada beberapa peserta yang aktif mengupdate dan berbagi perjuangan mereka menahan keluh selama seminggu. Dan kisah-kisah mereka banyak yang konyol, lucu, inspiratif, dan ada yang mengharukan.

(grafik “web view” #NoComplaintWeek- perhatikan drop tajam sesudah Hari ke-3 :D)

Ada beberapa “pelajaran” yang gw petik dari pengalaman pribadi dan cerita teman-teman selama #NoComplaintWeek ini:

1. Kita mampu menjadi “sadar” akan keluhan kita. Bagi banyak orang, mengeluh itu sudah menjadi insting, spontan, automatis. Ketika situasi tidak seperti yang kita kehendaki,  maka secara otomatis berbagai kata keluhan dan umpatan keluar – tanpa dipikir. Saat menjalani 7 hari ini, ternyata kita mampu untuk sadar akan ini dan menjadikan keluhan sedikit lebih sulit untuk telontar.

2. Kita menyadari bahwa kita BISA untuk tidak mengeluh. Lanjutan dari poin di atas, sesudah kita mulai “ngeh” (conscious) tentang hasrat mengeluh kita, ternyata kita semua bisa mengerem mulut. Dan banyak cerita temen-temen yang juga baru menyadari bahwa mereka semua punya kemampuan itu.

3. Gimana dengan negative thinking? Ada yang menanyakan bagaimana dengan soal mengeluh dalam hati. Ada juga yang bahkan mengusulkan ada project lanjutan dengan “no negative thinking”. Gw ga seambisius itu. Sederhananya begini: Gw percaya kita memulai perubahan dari hal-hal yang lebih simpel, dan actionable. Negative thinking jelas susah untuk dikendalikan, karena sifatnya pikiran, di dalam otak, sering tercetus spontan. Tetapi aksi mengeluh, itu bersifat “tindakan”, entah itu ngomel di bibir, atau ngomel di Twitter/FB. Yang ini relatif “lebih mudah” distop atau dikurangi. Jadi mari mulai dari yang lebih gampang.

Lagipula, ada gak yang merasa seiring dengan tidak mengeluh, pikirannya juga ikut? Ada saat-saat gw merasa ketika mulut gak ngomel, tiba-tiba pikiran seperti terbawa. Ketika teman kerja masuk dengan masalah, gw menggigit bibir untuk tidak mengeluh, dan di kepala pun yang terpikir hanya “Ya udah, dikerjain aja deh”. Ada teman-teman lain yang punya pengalaman yang sama?

Ini mengingatkan gw tentang penemuan menarik soal hubungan mood dan ekspresi. Selama ini tentu kita maklum kalau suasana hati mempengaruhi wajah. Kalau kita hepi, ya kita senyum. Kalo kita bete, ya kita cemberut. Wajar kan? Tapi yang mengejutkan adanya penemuan bahwa hubungan antara mood dan ekspresi ini mungkin DUA ARAH. Jadi ketika senyum dipaksa sekalipun, itu bisa mempengaruhi mood. Hebat yah? Mungkin karena itu ketika saya tidak mengeluh, maka mood pun terpengaruh, dan problem kerjaan jadi tidak terasa seberat itu.

Dari kisah temen-temen, macem-macem “strategi” untuk tidak mengeluh: “Nyengir”adalah salah-satunya. Saat gw berhadapan dengan situasi menyebalkan dan “kampret” udah di ujung lidah, ya gw maksa nyengir aja, bahkan kadang-kadang sampe ngakak saking berusaha nahannya. Tapi dari nyengir dan ngakak itu gw jadi ngerasa “it’s not that bad kok”.

Strategi lain adalah “mencari angle” dari situasi nyebelin ini. Ada yang share harus berdiri lama di kereta, terus mikirnya “Ah. anggep aja lagi latihan berdiri pas menikah” :D. Itu contoh mencari angle positif.

“Melihat ke bawah” juga strategi lain – mencari alasan bersyukur dengan membandingkan ke orang lain yang lebih susah. Pesen makan rasanya gak enak? “Masih ada orang lain yang gak makan”. Kerjaan sibuk gak abis2? “Masih ada orang lain yang susah cari kerjaan”, dll. Ini juga lumayan efektif. Atau strategi “Jawa” yang sebutannya “masih untung…”

“Lapor teman” juga dilakukan banyak partisipan lain. Atau even better, melakukan NoComplaintWeek bersama-sama teman main. Intinya: kelilingilah dirimu dengan teman yang positif, karena akan menular. Sama juga dengan ada di sekitar pengeluh…kemungkinan besar kita akan tertular.

“Membesarkan hal2 positif walaupun kecil”. Ada hal-hal kecil yang positif yang kita take for granted. Kalau kita merenunginya, itu juga membantu. Ada cerita partisipan yang merasa hepi dengan menikmati sepiring siomay, dan menyadari kebahagiaan bisa datang dari hal-hal kecil. Walaupun ini tidak langsung mengenai komplain, tapi bisa jadi “antidot” terhadap situasi remeh sumber keluhan.

Membaca banyak cerita temen2 yang berhasil mengerem keluhan selama #NoComplaintWeek, it makes me feel good to read how people feel trumphant/menang over themselves. Bangga. Hanya dengan inisiatif kecil ini bikin orang lain merasa “kuat” melawan dirinya sendiri. Gw jadi inget kata2 temen kantor gw Mita (@sillysampi): “You are stronger than you think you are”. (Kita sebenarnya lebih kuat dari pendapat kita sendiri). Ini bener banget.

Gw dapet kiriman “gambar” ini dari Ranum di akhir No Complaint Week (gw KEBERATAN tentang tulisan di kaos gw di gambar itu!!). Seneng deh rasanya – thanks Ranum! 😀

 

Apa sih yang gw cari?

Jadi apa yang gw cari dengan project ini? Apa gw mau mencoba menjadi manusia tanpa keluhan sama sekali?

Jawabnya: Tentu tidak. Karena tidak mungkin. Dan tidak perlu.

Tidak mungkin dihilangkan sama sekali, karena mengeluh adalah bagian inheren dari human nature. Tidak akan mungkin dilenyapkan sama sekali.

Dan tidak perlu juga dihilangkan sama sekali. Karena mengeluh sehat itu awal dari perubahan yang lebih baik. Kita bisa mulai memperbaiki karena menyadari ada sesuatu yang kurang/keliru.

Tetapi yang gw targetkan adalah keluhan yang berlebihan, yang tidak perlu, yang tidak membawa perubahan, atau keluhan tentang hal-hal remeh/sepele. Semua ini toh tidak membawa apa-apa, selain menghabiskan energi, memperburuk mood, dan menyebalkan orang sekitar. #NoComplaintWeek bertujuan sebagai “detoks” mental, dan juga melatih kita melawan tendensi mengeluh yang tidak perlu.

Dan akhirnya, untuk gw sendiri dan semua temen2 yang menjalaninya, adalah menyadari bahwa kita punya PILIHAN. Saat gw cerita soal inisiatif #NoComplaintWeek ini, banyak yang bilang “Ah, gw gak bakal bisa….”. Tetapi banyak juga yang mau mencoba. Dan sebagian dari yang mencoba ini akhirnya menyadari bahwa mengeluh itu bukan nasib, takdir, di luar kekuasaan kita. Mengeluh adalah pilihan.

Dan gw jadi teringat kisah Viktor Frankl, survivor Holocaust saat Perang Dunia ke II. Beliau dikirim ke kamp konsentrasi Nazi, di mana istri, ayah, dan ibunya semuanya mari di sana. Dalam bukunya “Men’s Search for Meaning”, Frankl berkata bahwa tentara Nazi bisa merenggut semua kemerdekaannya sebagai seorang tawanan kamp konsentrasi. Tetapi ada satu “kemerdekaan” yang tidak bisa direnggut, yaitu kemerdekaannya untuk MERESPON situasi yang menimpanya. Apakah dia akan menjadi putus-asa dan frustrasi, itu ada di tangannya sendiri, bukan di tangan Nazi. Dan dari situ Viktor Frankl bertahan atas penderitaannya, sampai ia dibebaskan oleh tentara Amerika.

Kita semua tidak akan menjalani penderitaan seperti yang dihadapi Viktor Frankl. Tetapi prinsip beliau tetap sama. Respon kita terhadap sebuah situasi ada di tangan kita sendiri. Dan karena itulah, mengeluh adalah pilihan.

What’s Next?

Ada yang nanya, #NoComplaintWeek akan ada lanjutannya gak? Well, dari awal project ini sudah disiapkan untuk selesai cukup seminggu, tidak lebih, tidak kurang. Tetapi ini kan adalah project pribadi. Tentunya teman-teman yang mau melanjutkan sendiri bebas untuk melakukannya 🙂

Tetapi pertanyaan gw: Sebenarnya perlukah #NoComplaintWeek ini “dilanjutkan” dengan sebuah project khusus? Dengan hashtag khusus #NoComplaintWeek? Atau teman-teman sebenarnya bisa tetap tidak mengeluh – tanpa “project”, tanpa blog, tanpa hashtag, tanpa gw – di hari-hari ke depan? 🙂

Selamat menjalani hari esok! 🙂

Catatan tentang blog:

Terima kasih untuk SEMUA yang sudah menyumbang cerita, atau sekadar mampir di blog ini. Ada yang menanyakan nasib blog ini. Tentunya blog ini akan tetap ada, sebagai monumen kecil tentang 7 hari di Februari ketika gw dan teman-teman melakukan project ini. Bagi yang lain yang masih mau berbagi cerita, tentunya blog ini terbuka lebar bagi siapa saja 😀

Bagi yang mau berbagi kesan-kesan keseluruhan seminggu ini, yuk tulis di bagian komen di bawah 🙂