Tentang Mengeluh – Refleksi #NoComplaintWeek

#NoComplaintWeek berakhir sudah di Minggu malam ini…(iya, gw tau kelarnya resminya tengah malem nanti – tapi masak udah malem gini masih mau ngeluh? Eh bisa aja ya?)

Seminggu yang lalu, di hari Minggu sore, ide ini tercetus, untuk menjalani 7 hari tanpa mengeluh. Dari iseng mengetwit ide ini sebagai “proyek pribadi”, karena sambutan dari beberapa follower, jadilah inisiatif ini dibuat “go public”, di mana orang-orang lain boleh bergabung dan ikut berbagi cerita.

Dan ternyata sambutan yang gw terima (di awal) cukup meriah. Banyak yang menyatakan mau bergabung. Di Hari Pertama banyak yang memberikan komen di blog ini, menyatakan antusiasme. Komennya saja mencapai 70 lebih!

Tentunya, seperti bisa diduga, pelan-pelan suara-suara tersebut makin berkurang seiring berjalannya hari lepas hari. Di akhir hari keenam, sudah kurang dari 15 komen, hihihi. Gw sih sudah menduga akan terjadi “seleksi alam”, layaknya dengan semua niatan manusia. Tetapi yang menghibur selalu ada beberapa peserta yang aktif mengupdate dan berbagi perjuangan mereka menahan keluh selama seminggu. Dan kisah-kisah mereka banyak yang konyol, lucu, inspiratif, dan ada yang mengharukan.

(grafik “web view” #NoComplaintWeek- perhatikan drop tajam sesudah Hari ke-3 :D)

Ada beberapa “pelajaran” yang gw petik dari pengalaman pribadi dan cerita teman-teman selama #NoComplaintWeek ini:

1. Kita mampu menjadi “sadar” akan keluhan kita. Bagi banyak orang, mengeluh itu sudah menjadi insting, spontan, automatis. Ketika situasi tidak seperti yang kita kehendaki,Β  maka secara otomatis berbagai kata keluhan dan umpatan keluar – tanpa dipikir. Saat menjalani 7 hari ini, ternyata kita mampu untuk sadar akan ini dan menjadikan keluhan sedikit lebih sulit untuk telontar.

2. Kita menyadari bahwa kita BISA untuk tidak mengeluh. Lanjutan dari poin di atas, sesudah kita mulai “ngeh” (conscious) tentang hasrat mengeluh kita, ternyata kita semua bisa mengerem mulut. Dan banyak cerita temen-temen yang juga baru menyadari bahwa mereka semua punya kemampuan itu.

3. Gimana dengan negative thinking? Ada yang menanyakan bagaimana dengan soal mengeluh dalam hati. Ada juga yang bahkan mengusulkan ada project lanjutan dengan “no negative thinking”. Gw ga seambisius itu. Sederhananya begini: Gw percaya kita memulai perubahan dari hal-hal yang lebih simpel, dan actionable. Negative thinking jelas susah untuk dikendalikan, karena sifatnya pikiran, di dalam otak, sering tercetus spontan. Tetapi aksi mengeluh, itu bersifat “tindakan”, entah itu ngomel di bibir, atau ngomel di Twitter/FB. Yang ini relatif “lebih mudah” distop atau dikurangi. Jadi mari mulai dari yang lebih gampang.

Lagipula, ada gak yang merasa seiring dengan tidak mengeluh, pikirannya juga ikut? Ada saat-saat gw merasa ketika mulut gak ngomel, tiba-tiba pikiran seperti terbawa. Ketika teman kerja masuk dengan masalah, gw menggigit bibir untuk tidak mengeluh, dan di kepala pun yang terpikir hanya “Ya udah, dikerjain aja deh”. Ada teman-teman lain yang punya pengalaman yang sama?

Ini mengingatkan gw tentang penemuan menarik soal hubungan mood dan ekspresi. Selama ini tentu kita maklum kalau suasana hati mempengaruhi wajah. Kalau kita hepi, ya kita senyum. Kalo kita bete, ya kita cemberut. Wajar kan? Tapi yang mengejutkan adanya penemuan bahwa hubungan antara mood dan ekspresi ini mungkin DUA ARAH. Jadi ketika senyum dipaksa sekalipun, itu bisa mempengaruhi mood. Hebat yah? Mungkin karena itu ketika saya tidak mengeluh, maka mood pun terpengaruh, dan problem kerjaan jadi tidak terasa seberat itu.

Dari kisah temen-temen, macem-macem “strategi” untuk tidak mengeluh: “Nyengir”adalah salah-satunya. Saat gw berhadapan dengan situasi menyebalkan dan “kampret” udah di ujung lidah, ya gw maksa nyengir aja, bahkan kadang-kadang sampe ngakak saking berusaha nahannya. Tapi dari nyengir dan ngakak itu gw jadi ngerasa “it’s not that bad kok”.

Strategi lain adalah “mencari angle” dari situasi nyebelin ini. Ada yang share harus berdiri lama di kereta, terus mikirnya “Ah. anggep aja lagi latihan berdiri pas menikah” :D. Itu contoh mencari angle positif.

“Melihat ke bawah” juga strategi lain – mencari alasan bersyukur dengan membandingkan ke orang lain yang lebih susah. Pesen makan rasanya gak enak? “Masih ada orang lain yang gak makan”. Kerjaan sibuk gak abis2? “Masih ada orang lain yang susah cari kerjaan”, dll. Ini juga lumayan efektif. Atau strategi “Jawa” yang sebutannya “masih untung…”

“Lapor teman” juga dilakukan banyak partisipan lain. Atau even better, melakukan NoComplaintWeek bersama-sama teman main. Intinya: kelilingilah dirimu dengan teman yang positif, karena akan menular. Sama juga dengan ada di sekitar pengeluh…kemungkinan besar kita akan tertular.

“Membesarkan hal2 positif walaupun kecil”. Ada hal-hal kecil yang positif yang kita take for granted. Kalau kita merenunginya, itu juga membantu. Ada cerita partisipan yang merasa hepi dengan menikmati sepiring siomay, dan menyadari kebahagiaan bisa datang dari hal-hal kecil. Walaupun ini tidak langsung mengenai komplain, tapi bisa jadi “antidot” terhadap situasi remeh sumber keluhan.

Membaca banyak cerita temen2 yang berhasil mengerem keluhan selama #NoComplaintWeek, it makes me feel good to read how people feel trumphant/menang over themselves. Bangga. Hanya dengan inisiatif kecil ini bikin orang lain merasa “kuat” melawan dirinya sendiri. Gw jadi inget kata2 temen kantor gw Mita (@sillysampi): “You are stronger than you think you are”. (Kita sebenarnya lebih kuat dari pendapat kita sendiri). Ini bener banget.

Gw dapet kiriman “gambar” ini dari Ranum di akhir No Complaint Week (gw KEBERATAN tentang tulisan di kaos gw di gambar itu!!). Seneng deh rasanya – thanks Ranum! πŸ˜€

 

Apa sih yang gw cari?

Jadi apa yang gw cari dengan project ini? Apa gw mau mencoba menjadi manusia tanpa keluhan sama sekali?

Jawabnya: Tentu tidak. Karena tidak mungkin. Dan tidak perlu.

Tidak mungkin dihilangkan sama sekali, karena mengeluh adalah bagian inheren dari human nature. Tidak akan mungkin dilenyapkan sama sekali.

Dan tidak perlu juga dihilangkan sama sekali. Karena mengeluh sehat itu awal dari perubahan yang lebih baik. Kita bisa mulai memperbaiki karena menyadari ada sesuatu yang kurang/keliru.

Tetapi yang gw targetkan adalah keluhan yang berlebihan, yang tidak perlu, yang tidak membawa perubahan, atau keluhan tentang hal-hal remeh/sepele. Semua ini toh tidak membawa apa-apa, selain menghabiskan energi, memperburuk mood, dan menyebalkan orang sekitar. #NoComplaintWeek bertujuan sebagai “detoks” mental, dan juga melatih kita melawan tendensi mengeluh yang tidak perlu.

Dan akhirnya, untuk gw sendiri dan semua temen2 yang menjalaninya, adalah menyadari bahwa kita punya PILIHAN. Saat gw cerita soal inisiatif #NoComplaintWeek ini, banyak yang bilang “Ah, gw gak bakal bisa….”. Tetapi banyak juga yang mau mencoba. Dan sebagian dari yang mencoba ini akhirnya menyadari bahwa mengeluh itu bukan nasib, takdir, di luar kekuasaan kita. Mengeluh adalah pilihan.

Dan gw jadi teringat kisah Viktor Frankl, survivor Holocaust saat Perang Dunia ke II. Beliau dikirim ke kamp konsentrasi Nazi, di mana istri, ayah, dan ibunya semuanya mari di sana. Dalam bukunya “Men’s Search for Meaning”, Frankl berkata bahwa tentara Nazi bisa merenggut semua kemerdekaannya sebagai seorang tawanan kamp konsentrasi. Tetapi ada satu “kemerdekaan” yang tidak bisa direnggut, yaitu kemerdekaannya untuk MERESPON situasi yang menimpanya. Apakah dia akan menjadi putus-asa dan frustrasi, itu ada di tangannya sendiri, bukan di tangan Nazi. Dan dari situ Viktor Frankl bertahan atas penderitaannya, sampai ia dibebaskan oleh tentara Amerika.

Kita semua tidak akan menjalani penderitaan seperti yang dihadapi Viktor Frankl. Tetapi prinsip beliau tetap sama. Respon kita terhadap sebuah situasi ada di tangan kita sendiri. Dan karena itulah, mengeluh adalah pilihan.

What’s Next?

Ada yang nanya, #NoComplaintWeek akan ada lanjutannya gak? Well, dari awal project ini sudah disiapkan untuk selesai cukup seminggu, tidak lebih, tidak kurang. Tetapi ini kan adalah project pribadi. Tentunya teman-teman yang mau melanjutkan sendiri bebas untuk melakukannya πŸ™‚

Tetapi pertanyaan gw: Sebenarnya perlukah #NoComplaintWeek ini “dilanjutkan” dengan sebuah project khusus? Dengan hashtag khusus #NoComplaintWeek? Atau teman-teman sebenarnya bisa tetap tidak mengeluh – tanpa “project”, tanpa blog, tanpa hashtag, tanpa gw – di hari-hari ke depan? πŸ™‚

Selamat menjalani hari esok! πŸ™‚

Catatan tentang blog:

Terima kasih untuk SEMUA yang sudah menyumbang cerita, atau sekadar mampir di blog ini. Ada yang menanyakan nasib blog ini. Tentunya blog ini akan tetap ada, sebagai monumen kecil tentang 7 hari di Februari ketika gw dan teman-teman melakukan project ini. Bagi yang lain yang masih mau berbagi cerita, tentunya blog ini terbuka lebar bagi siapa saja πŸ˜€

Bagi yang mau berbagi kesan-kesan keseluruhan seminggu ini, yuk tulis di bagian komen di bawah πŸ™‚

No Complaint Week – Hari Terakhir!

Wooohoo!

Sampai juga di hari terakhir No Complaint Week.

Sejak Senin gw (dan banyak temen-temen lain) bikin niatan untuk tidak mengeluh selama 7 hari.

Dari jumlah komen yang masuk, nampak jelas penurunan drastis dari saat pertama kali inisiatif ini dicanangkan, sampai menginjak hari ketujuh πŸ˜€

Untuk semua yang bertahan sampai hari ini – mari tutup hari terakhir No Complaint Week dengan sukses! πŸ˜€

Malam nanti gw mau membuat sedikit refleksi seminggu terakhir, berdasarkan pengalaman pribadi dan cerita teman-teman yang masuk. Semoga menjadi “catatan penutup” 7 hari penuh suka-duka ini πŸ˜€

 

Kalo ada cerita menarik di hari terakhir ini, jangan lupa share ya!

No Complaint Week – Hari ke-6!

HARI KEENAM!

Dalam dua hari proyek ini akan berakhir – tepatnya besok tengah malam!

Sudah selesai menjalani No Complaint Week di hari kerja. Kalo gw pikir2, agak gampang ya minggu ini, karena diselak libur sehari, atau nggak juga?

Pagi-pagi, badan mulai berasa sakit abis ngegym kemaren…okeh, no complaint. Gw inget sebuah slogan (kalo gak salah gw baca di iklan Nike), “Pain Is Weakness Leaving Your Body” (Rasa sakit karena olah-raga adalah tanda kelemahan pergi meninggalkan tubuh kita). Jadi gw tahanin deh – anggep aja badan gw lagi proses menjadi kuat kayak Chuck Norris #halah

Begitu bangun, ritual pertama adalah cium, eh, ngecek BB. Dapet email: “UberTwitter is suspended”. Gw langsung ngakak – hari Sabtu tetep gak jadi lebih mudah buat gak complain. Pagi2 udah dapet kabar aplikasi UT disuspend, padahal kayaknya banyak deh yang akses Twitter di BB dengan UT.

Buat para penderita disuspendnya UT: Ayo, don’t make a big deal out of it! Ketawa aja. Tinggal ganti aplikasi aja toh? Ada Twitter for BB, Seeismic for BB, dan yg lagi rame kayaknya Social Scope (http://www.getsocialscope.com/request_invite). Gw sendiri untungnya punya Android juga – jadi ga masalah UT-nya mati suri. Oh iya, konon UT akan lahir kembali kok, kemungkinan dengan nama berbeda. Dia disuspend karena dianggap nakal sama Twitter πŸ™‚

Seharian kemudian tidak ada insiden apa-apa. Kecuali badan meriang karena sakit. Yo wis, untung weekend, jadi bisa kesempatan goleran aja nonton DVD. Terus sorenya pacar menjenguk dengan bawa makanan – Yay!

Sabtu ini bisa dibilang cukup jinak untuk tidak mengeluh….

Seperti biasa, bagi2 ceritanya yaaa…. *cup*

No Complaint Week – Hari ke 5. And it’s FRIDAY! :)

Whew!

Hari ke-5. Tiba2 waktu “seminggu” berjalan cepat. Dan sekarang hari Jumat, hari di mana mood (seharusnya) terasa lebih baik menyambut akhir pekan.

Tetapi beneran deh, Jumat juga gak jamin bebas godaan….

Diawali dengan pagi2 di gym…gw menghampiri Personal Trainer gw dengan semangat ’45…

(lho, kok dia menyiapkan 4 ALAT berdampingan? Ada dumbells, ada bantalan, ada tali suspensi TRX, ada step aerobik)

“Hari ini kita awali dengan….cardio!”

“Lho, saya tadi udah lari 15 menit”

“Ya, lagi doong, ga pa-pa kaaan….”

Ngok.

Di ujung lidah sebenarnya udah nunggu: “GILA AJA LOE KALO GW HARUS MELAKUKAN 4 SET BERUNTUN KAYAK GENEEE”

Tapi karena ini No Complaint Week, ya gw cuma berujar lemah “Okeh”….

Gw complain emang bakal mengubah nasib gw? Tetep aja gw harus ngerjain ini semua kan? Yo wis lah, jabanin wae…. Jadi gw harus jalan Lunges nenteng dumbell, terus push-up burpees di bantalan, rowing pake suspensi, dan stepping 30x. Begitu kelar dengan bangga gw ngambil handuk sambil ngos2an. “Yak, apa lagi abis ini?”

“Lho mas, itu baru sekali, harus diulang 2 putaran lagi”.

Double-ngok.

Dan gw jalaninlah sesi gym hari ini dengan tabah….dan toh akhirnya bisa diselesaikan juga.

Siangnya meeting dengan client, presentasi ide-ide iklan. Hasilnya: ditembak jatuh semua. Tapi karena ide-ide ini adalah kerjaan tim, berasa pedihnya ditanggung bersama, jadi tetep gak ngeluh. Lagian kalo kerja di advertising, bagian ide ditolak client sebenarnya standar banget, gak perlu No Complaint Week buat gak ngeluh πŸ˜€

Tapi gw jebol juga sih pas meeting, tapi bukan karena ditolaknya ide. Setelah 3 jam meeting non-stop, gw sempet noleh ke bos gw yang orang Singapore itu dan bilang “Tiring” (melelahkan). Langsung nyadar sih bahwa gw baru aja ngeluh. Capek sih, tapi gak perlu diucapkan sebenarnya ya.

Yang sangat membantu sebenernya bos gw. Bos gw orangnya baik, super duper pinter DAN kreatif. PLUS lucunya setengah mati. Dia adalah Master Ngeles. Pokoknya dalam keadaan terdesak apapun, dia bisa ngarang cerita/argumen apa saja dalam 1/1000 detik (itu Gaban atau Sharivan ya?). Ketika pas meeting dia mampu mengarang “teori spontan” di depan client, gw gak tahan cekikikan ngeliatnya. Gw bersyukur banget punya bos kayak dia. Seberat apapun meetingnya, kita masih bisa bercanda dan ketemu alasan ketawa. Kalo temen2 punya kolega/temen kuliah seperti itu, bersyukurlah, itu berkah πŸ™‚

Malemnya gw masih stuck di kantor, padahal ada undangan nonton bareng filmnya Joko Anwar “Pintu Terlarang”. Gw milih nemenin temen2 satu tim ngobrolin kerjaan plus ngalor ngidul lainnya, dan makan delivery aja di meja kantor. Gak ideal, tapi at least gw bareng temen2 seperjuangan yang susah payah juga ngelarin pekerjaan mereka.

Gak nyangka, bentar lagi Hari ke-5 berakhir, dan tinggal ngejalanin weekend tanpa mengeluh…..

Seperti biasa, silahkan share kisah2 perjuangan yg kemarin2 dan hari ini di blog ini ya….

*peluk semua*

No Complaint Week – Hari ke-4

Woosah,

Hari ke-4! Separoh perjalanan sudah dilewati. Hari ini sudah Kamis. Gak berasa besok Jumat dan tinggal sisa 3 hari lagi dari #NoComplaintWeek ini!

Hari ini paling berat sejak hari Senin buat gw. Kerjaan yang dateng banyak sampe rasanya megap-megap, plus banyak masalah “printilan” yang biarpun kecil tapi kalo terakumulasi ya nyebelin juga. Pas siang sempet pake terapi ketawa/nyengir. Tiap kali udah masalah dateng gw maksain ketawa-ketawa aja, tapi ketika makin sering kok gw keliatan kayak orang gila ya?

Jam makan siang, saking ngebludaknya kerjaan, waktu makan siang cuma punya 15 menit. Ngebut deh. Tapi dalam 15 menit kepepet itu bersyukur juga karena bisa makan sayur asem yg lumayan enak karena banyak kacangnya. Seperti kata Jenny Jusuf di komen Hari ke-3, kita sebenarnya tidak perlu banyak untuk happy….

Dari jam makan siang ke sore, jujur gw jebol juga. “Mengeluh” gw tuh bentuknya dengan desahan panjang. Biarpun tidak berbentuk kata “kampret” atau kosakata bonbin, sebenarnya gw sudah mengeluh juga. Tapi yang penting abis itu gw sadar. Bahkan pas ngobrol dengan temen kantor dan mulai isu-nya gak enak, gw ngomong sendiri: “….GUA GAK BOLEH NGELUH…”, sampe temen kantor gw ketawa.

Menjelang sore, ada jadwal meeting jam 6 sore. Gw gak tahu dengan industri/bidang lain, tapi di advertising undangan meeting jam 6 SORE atau 7 malem itu sepertinya hal yang lumrah. Sebenarnya pas tadi pagi ngeset meeting jam 6 yang namanya “HADEEEUH” tuh udah ngantri di ujung bibir. Tapi seperti tips dari temen-temen lain, gw cuma menghela napas, diem aja gak ngeluh, dan ngejalanin aja.

Ini surprising partnya – ketika jam 6 akhirnya gw meeting, gw tetep bisa ngobrol dengan tenang & ikhlas, membahas ide-ide dengan para rekan sekerja, dan gak sedikitpun kepikir lagi betapa gak enaknya meeting di sore/malem hari, bahkan gw masih bisa becanda2. Ini cukup ajaib. Karena tadinya gw mikir gw bakal ngejalanin meeting dengan capek dan jutek. Teori gw: biarpun kita berat/ngga seneng dengan suatu situasi/kegiatan, selama kita tidak mengeluhkannya, itu akan membantu MERINGANKAN perasaan pas dijalanin. Dan sebaliknya, kalo kita ngomel/ngeluh, situasi itu jadi beneran bertambah berat. Bener gak sih? Apa temen-temen yg lain merasakan hal yang sama?

Ketika meeting jam 6 berakhir dan gw lagi asik2nya mengupdate blog ini, masuklah kolega yang lain, mengingatkan gw untuk membuat sebuah ide untuk meeting besok. JENG JEEEENG!! KOK GUA BISA KELUPAAN SOAL INI?? Tanpa satu katapun gw cuma memberi dia salut militer, dengan senyum lebar menyeringai gw cuma teriak: “SIAP!!!”. Lanjut lagiii!

Gimana temen2 yg ikutan dari hari pertama? Masih berasa berat atau malah mulai jadi “biasa”? Gak seberat itu kaaan? Gak gampang, tapi gak mustahil juga ya?

Keep sharing your stories di sini! πŸ™‚

No Complaint Week – Hari Ketiga

Menginjak Hari Ketiga, dan kembali ke hari kerja. Ahay… kembali ke banyak ujian sesudah kemarin “rehat” sejenak πŸ˜€

Hari ketiga gw langsung dimulai TENGAH MALEM…. lagi kriyep2 mau mimpi dihukum push-up Briptu Eka Frestya, tiba2 TES….TES….TES…. AC tua di kamar kembali kumat penyakit lamanya, BOCOR. Ngok. Tanpa menuturkan “kampret” yang merupakan Standard Operating Procedure gw dalam situasi seperti ini, gw buru2 naro kaos-kaos bekas di tempat tetesan.

Alhasil, tidur jadi kurang. Padahal gw tipenya harus tidur minimal 7 jam, idealnya 8 jam. Kalo kurang jadi cranky. Jadi Hari Ketiga ini buat gw bakal lumayan berat. Ga papa – DINIATIN.

Sampe kantor, harusnya meeting jam 9 pagi, seperti biasa pada gak dateng on-time, padahal gw udh on-time. Yah, udah sering jg sih. Tp prinsip gw adalah gak mau ikutan jam karet biarpun yg laen sering telat. Ini mgkn efek didikan bokap yg super keras soal tepat waktu.

Siang-siang, jujur gw bobol. Tapi ini yg namanya “komplen simpati”. Jadi lagi ngobrol sama kolega (yg ga tau soal nocomplaintweek). Terus dia mulai ngomel soal kerjaan dan client. Tanpa sadar, karena gw deket dengan dia, gw jadi menunjukkan simpati dng ikutan mengeluh. Langsung sadar sesudahnya, yaaah telat.

Gw nyadar bahwa attitude negatif, dan juga positif, bisa menular. Kalo gw deket org yg pengeluh, ya gw bisa ketularan negatip. Jadi bener kata orang bule “misery loves company”. Orang yg menderita nyari temen sesama penderita.

Gw jd nyadar kalo gw sering ngeluh bukan hanya itu menyebalkan org sekitar gw, tapi gw pun bisa menularkan itu ke mereka. Gak enak ya, kesannya gw bawa penyakit gitu.

Sorenya, gw harus telponan sama orang India selama 1.5 jam. SATU SETENGAH JAM. Ngobrol pake bahasa Indonesia di telpon 10 menit aja gw gak suka, ini harus pake mikir terjemahannya pula, selama 1.5 jam. Ditahaniiiin, biarpun kepala panas. Anggep aja lagi kursus bahasa Inggris – jadi suatu waktu ngobrol sama Bang Obama udah lancar #halah.

Malam ini pun, sambil ngetik ditemenin AC yg masih netes…tes….tes….. Gak, gak ngomel…bersyukur AC-nya masih dingin biarpun bocor. Ngomel pun gak bikin AC jadi bener.

Kalo baca dari kisah temen2, banyak yg bilang kalo ngasih tau niatan ke temen bisa membantu. Pertama, karena kita dapet support system dari mereka, dan kedua, faktor gengsi kalo gagal :D. Mungkin ini juga kenapa personal project kali ini gw share di Twitter/blog, supaya ada motivasi tetep bertahan πŸ™‚

Buat yang masih bertahan ikutan, jangan lupa tetap share ceritanya di sini, atau post link blognya πŸ™‚

Lanjut kan ke Hari ke-4? πŸ˜€

 

No Complaint Week – Hari Kedua

Okeh… menginjak Seminggu Tanpa Keluh – Hari Kedua.

Hari Pertama berlangsung lumayan sukses – seinget gw, gw cuma kelepas ngumpat sekali pada seorang pengendara motor, dan ‘menangis’ mendengar informasi dari bos. Selain itu, lumayan ketahan.

Hari Kedua ini “teori”nya lebih gampang. Kan libur? Konon liburan itu mood lebih happy, karena kita akan melakukan hal-hal yang kita senangi saja, tidak ada kuliah atau pekerjaan….atau nggak juga?

Misalnya di hari libur ini. Begitu bangun gw udah teringat harus mengerjakan presentasi. Kalo di hari-hari lain pasti udah terujar “HADEEEEUUUHH”, atau “AAARRGGHH” sendirian. Tapi pagi ini ngerem abis – dan minimal sukses gak ngomel di mulut. Untuk menghadapi ngomel di hati – berusaha mikir begini “Kerjaannya gak banyak, bisa dikelarin dalam 2 jam”, dan “Bersyukur masih bisa kerja di tanggal merah, masih banyak org lain yang mau kerja di tanggal item aja gak bisa”.

Di siang hari, dapet telpon dari kantor cabang Vietnam yg tentunya gak ngerti bahwa hari ini libur nasional. Asli keluhan udah di ujung bibir, tapi ditahanin deh. Sambil mikir, cuma telponan bentar aja. Cincay deh.

Menjelang sore hari, dapat kabar dari bokap ada dinner keluarga dengan keluarga adiknya. Jam 8 malem. Di Pecenongan. Begitu denger langsung lemes. Bukannya apa-apa, menurut gw daerah itu lumayan jauh, dan kalau baru mulai jam 8, kelarnya jam berapa? Sementara besok ada meeting pagi2. Tapi ya udah deh. Lagi2 mikirnya adalah: bersyukur masih ada acara makan dengan keluarga, toh nemenin orang-tua sendiri, dan jarang ketemu oom yang satu ini karena dia tinggal di luar-negeri.

Gw juga senang karena kakak saya tahu soal project ini (kebetulan dia follow saya di Twitter), dan dia mengakui pas kemarin suddenly berasa berat juga gak ngeluh ketika hari Senin pake acara dihujanin segala.

Kalau gw baca kisah-kisah teman2 di Hari Kedua, terkesan hari libur tidak terlalu berat ya? Banyak yang santai saja, jadi menghindari situasi2 yang menimbulkan keluhan :D.

Gw tidak tahu dari sekian banyak yang ikutan Hari Pertama kemarin berapa banyak yang masih bertahan sampai Hari Kedua. Jumlah yang share ceritanya drop drastis. Moga2 tidak banyak yang ‘kapok’ dengan pengalaman kemarin yaaa, hihihi πŸ˜€

Ayo berbagi cerita lagi di siniii…. πŸ™‚

No Complaint – Hari Pertama!!

Silahkan berbagi pengalaman2 di hari pertama! πŸ˜€

Boleh kisah berhasil/gagal/tip2 melawan keluh – untuk dibaca oleh yang lainnya.

Pengalaman saya di Hari Pertama:

Pagi2 bangun udah diniatin…”OKEH, NO NGELUH!!”

Begitu pagi2 nyetir, menghadapi kemacetan masih kuat lah…dengerin aja radio kenceng2…

…dan tik..tik…tik…mulailah gerimis membasahi mobil yang baru dicuci kemarin….

(tahan…tahan…). Biasanya kalo situasi gini gw udah ngedumel sendiri – tapi karena inget janji jadinya malah ngakak – berasa “diuji” πŸ˜€

Pas deket kantor, tiba2 ada pengemudi motor dengan antengnya berteduh dari hujan dengan posisi ngalangin jalan. Jujur, sempet otomatis kelepas “kampret”, tapi sepersekian detik langsung nyadar dan nyesel (Eh, ngumpat sama ngeluh beda lhoo….*nyoba ngeles* :p)

Selama siang dan sore di kantor adalah godaan-godaan kecil dari kerjaan, tapi semuanya bisa dilalui degan menggigit bibir dan maksa senyum ajah.

Menjelang malam, ada godaan lagi di kerjaan, berupa pertanyaan2 client yang “aneh”. Kali ini ga tahan, gak ngeluh sih, tapi mengeluarkan suara tangisan (“huuuaaahuaaaa…” gitu. Itu ngeluh gak? :p)

Ada pertanyaan dari temen2: Ini cukup gak ngeluh di mulut/FB/Twitter, atau termasuk gak ngeluh dalam hati (yang pastinya lebih susaaaah…)

Prinsip gw: gak usah terlalu ambisius dulu. Bisa gak ngomel di bibir (biarpun gak ada orang) aja udah hebat loh. Coba, berapa sering kita ngedumel sendirian “Dasar bos bego”, “Dosen dodol”, “Pacar cerewet”, dll? Jadi dari sini saja dulu. Nanti pelan-pelan bahkan di pikiranpun bisa kita rem. Bener deh, gw pernah ngerasain soalnya.

Pertanyaan lain: ini 24 jam? Jawab: IYA! Ini gak kelar pas maghrib atau pas sinetron mulai – ini FULL, selama 7 hari. Keluar kampus/kantor, di rumah/kosan tetep harus bisa ngelawan insting komplen πŸ™‚

Jangan khawatir ya kalo jebol – prinsipnya “ngeh”, sadar kalo baru ngomel, terus coba lagi. “Sadar baru ngomel” aja udah kemajuan loh, secara biasanya kita ngeluh senatural bernapas πŸ™‚

Udah siap Hari Kedua?

May The Force Be With You people!

πŸ˜€

Apaan Sih “No Complaint Week”

Apaan sih “No Complaint Week”?

Sederhananya, ini adalah personal project, dan definisinya sederhana: “Selama seminggu, saya akan komitmen untuk TIDAK MENGELUH tentang apapun”.

Beberapa tahun yang lalu saya sudah pernah melakukan ini, kalau tidak salah di 2009. Ini bukan ide orisinil saya, tapi terinspirasi oleh sebuah episode di Oprah. Ada sebuah gereja kecil di Amerika di mana pendetanya sudah capek mendengar orang-orang yang sering komplain, dan dia membuat sebuah gelang karetΒ  “Complaint Free World”. Caranya adalah, dengan memakai gelang itu kita berjanji untuk tidak mengeluh selama 21 HARI (yep!) – dan kalau kita “batal” karena mengeluh, gelang itu dipindah di tangan yang satunya lagi dan hitungan kembali dimulai dari 21 hari. Sadis ya? (untuk jelasnya ke http://www.acomplaintfreeworld.org)

Tentunya saya tidak akan kuat tidak mengeluh selama 21 hari. Tapi dulu saya pernah mencoba selama SEMINGGU.

Awalnya iseng untuk mengetes diri. Memang berat, tapi BUKAN mustahil ternyata. Tentunya saya tidak benar-benar full tidak mengeluh selama seminggu, ada kasus-kasus “kebobolan”. Tapi yang penting, kita jadi semakin “conscious”/sadar ketika akan atau baru saja mengeluh. Dan kesadaran ini bagi saya sudah terapi yang bagus.

Mengeluh itu ada banyak macamnya. Dari yang niat, sampai ditulis di FB atau Twitter, diucapkan ke orang lain, diucapkan ke diri sendiri, sampai yang dicetuskan dalam hati. Proyek “NoComplaintWeek” ini diusahakan untuk SEMUA level mengeluh yang tadi. Bahkan ketika mulai mengeluh dalam hati, bisakah kita memaksa tidak memikirkan itu? Susah banget – tapi dengan pengalaman saya waktu itu bisa kok πŸ™‚

Akhir-akhir ini saya merasakan cepat sekali mengeluh. Dari mengeluh soal macet di jalanan raya Jakarta keparat (eh, masih boleh ngeluh di post ini, kan belum mulai, wek! :p), urusan kerjaan (client yang demanding, kolega yang nyebelin, dll), urusan keluarga, sampai urusan cuaca. Hari ini pas hari Minggu, saya terpikir mau memulai lagi 7 hari tanpa mengeluh mulai Seninbesok, 14 Februari 2011.

Kenapa? Pertama, anggap saja ini ‘detok batin’ – mengeluh itu melelahkan, baik untuk diri sendiri, maupun orang-lain jika terdengar. Kedua, ini merupakan ‘latihan mental’. Waktu dulu saya melakukan ini, ada dua hal yang saya sadari. Pertama, saya menjadi “sadar” betapa seringnya saya mengeluh. Kedua, saya menyadari bahwa saya MAMPU untuk tidak mengeluh – bahkan dalam pikiran sekalipun! Bangga lho ketika sadar bahwa kita mampu untuk tidak ngomel dalam hati.

Kenapa saya membuat blog ini? Karena tidak ketika iseng ngetwit soal ide ini, beberapa follower menyambut antusias dan menyatakan niatnya untuk bergabung. Saya pikir, lucu juga untuk membuat open journal perjalanan 7 hari ini, di mana siapa saja yang mau ikutan bisa berbagi pengalaman – baik sukses maupun gagal. Karena selama 7 hari ini tidak masalah jika kita sempat mengeluh, yang penting sadar dan mencoba lagi!

Yuk kalau mau bergabung, mulai Senin 14 Februari 2011. Di setiap akhir hari, saya akan membuat entry Hari Kesatu, Hari Kedua, dll – silahkan share komen dan kisah2nya ya. HANYA 7 HARI SAJA – sesudah itu silahkan kembali mengeluh seperti biasa πŸ˜€

Karena saya masih baru di WordPress, mohon maaf kalo agak gaptek ya!

Mari mencoba. Good luck people! πŸ˜€

@newsplatter